Kamis, 01 April 2010

Diaspirasikan Gubernur 2012-2017




Nama Rusli Habibie di ranah politik di Gorontalo kian berkibar. Kiprahnya sebagai Ketua DPD I GolkarProvinsi Gorontalo sekaligus Bupati Gorontalo Utara seakan tak bisa dibendung lagi oleh lawan-lawan politiknya. Tidak hanya itu saja, di tataran politik dan pengambil kebijakan di tingkat pusat pun nama Rusli Habibie kian dikenal luas bahkan kinerja pemerintahannya terus saja mendapat apresiasi dari pemerintah pusat.

Berbagai apresiasi positif dari masyarakat dan pemerintah pusat tersebut merupakan hal yang lumrah terjadi karena ide, gagasan dan terobosannya membangun Kabupaten Gorontalo Utara benar-benar menyentuh kepentingan dan azas keadilan yang secara konkrit dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Hal ini tidak dapat dipungkiri jika melihat realitas dan indikator-indikator keberhasilan pemerintahannya bersama Wakil Bupati Indra Yasin selama setahun lebih memimpin Gorontalo Utara.

Ikon Gerakan pembangunan Ekonomi Masyarakat (Gerbang Emas) yang ia cetuskan mengandung makna yang prospektif dan kaya filosofi yang secara langsung maupun tidak langsung akan mengantarkan Gorut pada optimisme akan masa depan yang cemerlang.

Jika Provinsi Gorontalo sepeninggal Fadel Muhammad tidak lagi memiliki mega proyek, justru Kabupaten Gorut terus saja dipercaya oleh pemerintah pusat melaksanakan berbagai proyek yang bernilai ratusan milyar Rupiah. Pembangunan Jalan By Pass dari Pontolo Molingkapoto akan segera terwujud, Program Minapolitan di Sumalata dan Gentuma yang bernilai Rp. 100 milyar lebih siap dijalankan, program pembangunan Terminal Perikanan Nusantara di Kwandang, pembangunan kawasan perkantoran di Molingkapoto yang juga bernilai ratusan milyar segera terealisasi. Yang paling menggembirakan lagi adalah, ternyata Rusli Habibie tidak hanya mementingkan kemajuan Gorut semata tapi juga melirik daerah lainnya. Belum lama ini misalnya, ia berhasil meyakinkan Pemerintah pusat untuk membuka akses jalan Tolinggula-Marisa yang master plannya sudah akan ditenderkan tahun 2010 ini oleh Departemen Pekerjaan Umum dan Kimpraswil RI. Belum lagi upayanya mengatasi krisis listrik yang mulai digebrak dari Atinggola, pembangunan PLTA di Gentuma yang tengah dirintis merupakan deretan mega proyek sebagai wujud keberhasilan pemerintahan di Kabupaten Gorontalo Utara..
Tidak heran jika dalam kunjungannya ke daerah-daerah selaku Ketua DPD I Golkar Provinsi Gorontalo Rusli Habibie mulai diaspirasikan dan dieluk-elukkan sebagai calon Gubernur Gorontalo pada pemilihan Gubernur Gorontalo yang akan digelar akhir tahun 2011 mendatang. Semua ini merupakan bukti pengakuan masyarakat terhadap performance Rusli Habibie di kancah pemerintahan dan politik di Gorontalo. (AM)

Gorontalo Utara, Maju dan Optimis Dengan GERBANG EMAS


Kabupaten Gorontalo Utara diresmikan pada 26 April 2007 dengan luas wilayah 1.676,15 Km2 atau sekitar 10,7 persen dari total luas Provinsi Gorontalo yang mencapai 12.215,44 km2. Kabupaten Gorontalo Utara saat ini sesuai data kependudukan tahun 2009 memiliki penduduk sejumlah 115.821 jiwa.

Seiring perkembangannya, Gorontalo Utara kini telah memiliki 6 Kecamatan yakni Kecamatan Kwandang sebagai Ibukota Kabupaten, Kecamatan Anggrek, Atinggola, Sumalata, Tolinggula dan Kecamatan Gentuma Raya, yang secara keseluruhan memiliki 56 desa dimana terdapat 17 desa berkembang dan 39 desa tertinggal.

Kedepan daerah pesisir utara Gorontalo ini ditargetkan bakal menjadi 15 Kecamatan. Pemekaran ini menjadi sebuah tuntutan disamping sebagai upaya mendekatkan pelayanan pemerintahan kepada masyarakatnya juga karena potensi daerah ini yang sangat besar yang membutuhkan responsifitas dalam bentuk layanan kepada masyarakat dan stakeholder yang ingin menanamkan modalnya di daerah ini.

Gorontalo Utara termasuk daerah yang sangat strategis karena berada di lintasan kawasan ekonomi terpadu (KAPET) yakni di sebelah timur berbatasan langsung dengan Manado dan Bolaang Mongondow Utara, di sebelah Barat berbatasan dengan Sulawesi Tengah (Buol Toli-toli) yang bisa berinteraksi melalui laut dan darat dan hanya berjarak sekitar 50 Km dengan Bandara Udara Jalaludin di Isimu Kabupaten Gorontalo.

Secara geografis Gorontalo Utara menyimpan berjuta potensi mulai dari potensi perikanan dan kelautan yang membentang dari Buata Atinggola hingga Tolinggula dan Kwandang hingga Anggrek yang memiliki panjang garis pantai 320 km, memiliki 52 pulau diantaranya ada 2 (dua) pulau yang berpenghuni yakni Ponelo dan Dudepo. Potensi perikanan tangkap di perairan 12 mil sebesar 13.640 ton / tahun dan ZEE Indonesia sebesar 46.000 ton / tahun. Untuk budidaya perikanan meliputi 400 ha tambak, meliputi rumput laut seluas 2.560 ha, Kerang Mutiara 200 Ha dan budi daya ikan lainnya seluas 550 Ha.

Keseluruhan potensi inilah yang coba dikembangkan pemerintahan Rusli Habibie, wakil Bupati Indra Yasin dan didukung performance birokrat yang dikomandoi Ir. Ismail Patamani

Tidak heran jika semua sektor terus mendapat sentuhan program, inovasi, dan terobosan untuk mendorong pertumbuhan, kemajuan dan kesejahteraan rakyatnya.

Di sektor Perikanan dan Kelautan, Pemerintah Daerah telah menggagas dan tengah mengembangkan pembangunan pelabuhan perikanan Nusantara melalui program Minapolitan di Kecamatan Kwandang dan Gentuma Raya yang didukung penuh oleh Kementerian Perikanan dan Kelautan. Program-program di sektor ini tidak hanya menitikberatkan pada peningkatan produksi perikanan dan pemasarannya tapi juga memberdayakan masyarakat pesisir dengan berbagai kebijakan di semua sektor terutama pengembangan SDM nya.

Pada kurun tahun 2009, total produksi Perikanan Tangkap di Gorontalo Utara mencapai 11.400 ton, Perikanan Budidaya Tambak 190 ton, Rumput laut, 1.760 ton dan kerang mutiara 12, 6 kg. Total produksi perikanan ini bersumber dari sarana budidaya tambak seluas 240 Ha, Rumput Laut 256 Ha, Kerang Mutiara seluas 60 Ha. Di daerah ini juga dikembangkan Rumah Tangga Perikanan (RTP) yang meliputi RTP tangkap sebanyak 2.374 RTP (3.893 nelayan) perikanan Budidaya Tambak 164 RTP (196 pembudidaya), Rumput Laut 657 RTP (1003 pembudidaya)

Realisasi pemasaran Produksi perikanan ini selama kurun tahun 2009 untuk rumput laut, Udang Lobster, Ikan kering, Ikan, Teripang, Jaring-jaring diantaranya ke Surabaya, Manado, Makassar, Palu, Bitung dan ekspor Udang Lobster ke Singapura dan Thailand serta kerang mutiara ke Jepang.

Jika dibandingkan dengan sebelum pemekaran, produksi perikanan dan kelautan jelas mengalami lonjakan signifikan. Hal ini didorong oleh peningkatan sarana dan prasarana perikanan yang terus ditingkatkan. Hingga akhir tahun 2009, sarana penangkapan ikan berupa Kapal Motor mulai dari 5-10 GT sebanyak 120 unit, perahu /motor temple sebanyak 1.354 buah dan perahu tanpa motor sebanyak 891 buah. Selain itu, program-program bantuan untuk nelayan dan masyarakat pesisir terus bergulir melalui program Pembinaan dan pengembangan usaha mulai dari pelayanan perizinan, bantuan katinting, jarring purse seine, Tramel net, Gilnet, sarana percontohan budidaya rumput laut, sarana kebun bibit rumput laut, jarring bagan, Rumpon, Motor Cool Box dan bantuan langsung masyarakat melalui program PNPM Mandiri.

Di sektor Pertanian Pemerintah Daerah melaksanakan berbagai program diantaranya pemetaan kesesuaian lahan potensi pertanian, pembangunan jalan usaha tani,pembangunan jalan produksi perkebunan, pembangunan lumbung pangan, pembangunan rumah pupuk, pengadaan pompa air permukaan, pembuatan demplot kawasan perkebunan kakao, bantuan benih padi, pupuk, pembangunan balai penyuluh pertanian, pembuatan irigasi tanah dangkal, peningkatan SDM aparat dan petani, pembangunan jaringan irigasi sawah, peremajaan perkebunan rakyat.

Tidak hanya itu saja, di sektor pertanian, Pemerintah Daerah melakukan penyusunan database kelompok tani, pembangunan atau rehab irigasi dan saluran irigasi, pembuatan embung, pembuatan areal HMT (Hijau Makanan ternak) , peningkatan SDM melalui kegiatan pelatihan, bimbingan, penyuluhan dan pemberian bantuan bibit cabe, kakao, durian, Nenas dan Cengkeh, Pembuatan Demfam Agropolitan Jagung, pemberian bantuan benih jagung, pupuk, obat-obatan dan tenda menggunakan kartu kendali pengadaan Hand Tracktor dan alat perbengkelan serta pembuatan pupuk organic.

Dengan berbagai kebijakan tersebut, produksi pertanian khususnya padi dan jagung di Kabupaten Gorontalo Utara selama tahun 2009 mengalami lonjakan cukup drastis yakni dari 4 ton per hektar menjadi 8-11 ton per hektar. Hal ini terwujud berkat program penguatan yang digagas pemerintah daerah diantaranya melalui pemberian bantuan bibit, pupuk dan obat-obatan, program pertanian dengan sentuhan teknologi, pencetakan sawah maupun ladang baru yang pada tahun 2009 mengalami penambahan 100 hektar dan yang tidak kalah pentingnya adalah pembangunan lumbung pangan.

Di sektor Peternakan, Kabupaten Gorontalo Utara terus mengembangkan peternakan yang berbasis kerakyatan yang diintervensi melalui kebijakan diantaranya pemberian bantuan sapi berkualitas bagi masyarakat yang pada tahun 2009 lalu mencapai 462 ekor, pemberian HMT, pembuatan kandang dan peningkatan sarana peternakan dan peningkatan produksi hasil ternak melalui teknologi Inseminasi Buatan (IB). Untuk tahun 2009 saja, anggaran yang dikucurkan Pemerintah Daerah bagi pengembangan peternakan untuk 12 kelompok ternak di 15 desa senilai Rp. 1.813 Milyar.

Demikian juga dengan sektor Pariwisata, Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara telah melahirkan hasil yang brilian yang notabene sejajar dengan Kabupaten lainnya. Keberhasilan yang diukur dari beberapa kinerja termasuk potensi pariwisata yang menjadi aset paling mahal di Gorontalo Utara ternyata mendapat jempol dari daerah lain yang memelihara secara langsung proses pengembangan potensi yang selama ini terkubur sebelum Kabupaten Gorontalo Utara dibentuk.

Pulau Saronde yang sebelumnya tidak nampak misalnya, kini menjadi pusat pariwisata yang paling dikenal di Gorontalo, begitu juga pantai Monano yang sebelumnya hanya merupakan lokasi biasa kini ‘disulap’ menjadi pantai pariwisata yang banyak mendatangkan pengunjung baik didalam daerah Gorontalo maupun dari luar daerah Gorontalo. Bahkan lebih dari itu, Konsorsium pengusaha pariwisata Singapura yang melakukan kunjungannya di daerah ini pada pertengahan tahun 2009 lalu pernah menyatakan minat untuk berinvestasi di bidang pariwisata di 3 pulau sekaligus yakni Pulau Saronde, Mohinggito serta Pulau Lampu.

Pemerintahan Rusli Habibie juga tidak hanya memfokuskan pada aspek pembenahan tempat wisata tapi juga mengembangkan adat-istiadat dan budaya leluhur Gorontalo sebagai salah satu asset daerah. Ritual mandi safar yang menjadi tradisi turun temurun di Kec. Atinggola misalnya oleh Pemerintah Daerah dikemas menjadi sebuah kegiatan dalambentuk festival yang mampu menarik minat para wisatawan dari luar daerah.

Di sektor pendidikan, Pemerintah Daerah terus melakukan berbagai program dan terobosan bagi peningkatan SDM. Tidak heran jika dalam setahun lebih terakhir pendidikan terus menunjukkan geliat dan dinamika yang menggembirakan. Hal itu dapat dilihat dari upaya meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan guru serta peningkatan mutu pendidikan secara keseluruhan. Terobosan Rusli Habibie ini bahkan diapreasiasi dan disambut positif Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Prof. Nelson Pomalingo, M.Pd. Pada salah satu kegiatan pendidikan di Provinsi Gorontalo, sosok Ketua PGRI Provinsi Gorontalo ini menuturkan bahwa Rusli Habibie merupakan Bupati yang sangat concern, berani, responsif dan memiliki konsep brilian membangun SDM di daerahnya.

Penuturan Guru besar UNG ini cukup beralasan karena belum lama menjabat sebagai Bupati, Rusli Habibie dan Wakil Bupati Indra Yasin telah merealisasikan bantuan Motor MegaPRO untuk seluruh Kepala SD, SMP, SMA, dan Kepala Cabang Dinas Pendidikan, serta Bus sekolah bagi anak didik, mengalokasikan anggaran pendidikan yang mencapai 28 persen tahun 2008-2009, meningkatkan tingkat kesejahteraan tenaga Guru Tidak Tetap (GTT) dari Rp. 200 ribu per bulan menjadi Rp. 600 ribu per bulan, mengembangkan pendidikan berbasis entrepreneur, program pemerataan dan distribusi guru, program peningkatan kualitas dan kualifikasi guru dengan merealisasikan beasiswa untuk guru agar bisa mengikuti pendidikan ke jenjang D3, S1 dan S2 sebanyak 416 orang, pemberian tunjangan guru terpencil dan daerah khusus sebanyak 120 orang, meningkatkan akses dan perluasan pendidikan dengan menyediakan beasiswa untuk siswa berpotensi, Tahun 2010 Pemerintah Daerah mengalokasikan anggaran Rp.1 milyar lebih untuk beasiswa ke perguruan tinggi lokal dan luar daerah, diantaranya ke UNG, UG, Politekes, Fakultas Kedokteran UNG, beasiswa ke STKS dan masih banyak lagi. Selain itu, Pemerintah Daerah juga mengembangkan pendidikan berbasis teknologi tingkat tinggi (ICT), membangun dan merehabilitasi gedung sekolah, ruang kelas, perpustakaan, laboratorium dan sarana pendidikan lainnya.

Tidak hanya itu saja, kepeduliannya terhadap budaya dan adat Gorontalo juga tidak diragukan. Belum lama ini misalnya, Rusli Habibie menekankan kepada setiap guru untuk menggunakan bahasa Gorontalo di lingkungan sekolah sebagai salah satu upaya menyelematkan bahasa leluhur dari kepunahan. (AM))

KTP, Kartu Keluarga dan Layanan Kesehatan Gratis




Pemerintahan Rusli Habibie dan Indra Yasin selama 15 bulan terakhir ini terus menggulirkan berbagai program konkrit bagi seluruh rakyatnya. Dari sekian banyaknya kebijakan yang diperuntukkan bagi masyarakat, salah satu kebijakan yang paling menggembirakan bagi rakyat Gorut adalah pelayanan KTP Gratis , Kartu Keluarga Gratis dan pelayanan kesehatan Gratis bagi seluruh masyarakat tanpa terkecuali yang diberlakukan mulai tahun 2010 ini.

Jika pada tahun lalu, sebanyak 33 ribu rakyat Gorut mendapatkan fasilitas pelayanan kesehatan melalui Puskesmas dan Rumah Sakit secara Gratis melalui program Jaminan Asuransi Kesehatan Daerah (Jamkesda), maka mulai tahun 2010 ini, seluruh rakyat Gorut sudah dapat memperoleh fasilitas layanan kesehatan secara Gratis di Puskesmas-pukesmas yang bertebaran di Kabupaten Gorut. Hal ini menjadi kenyataan dan bisa diwujudkan karena tahun ini juga Pemerintah Daerah telah menambah alokasi dana untuk layanan kesehatan Gratis senilai Rp 1, 4 milyar.

Selain itu, Pemerintah Daerah juga telah memfasilitas seluruh Puskesmas yang ada di Kabupaten Gorut dengan berbagai sentuhan program melalui penyediaan tenaga Dokter, Perawat, Bidan Desa dan kenderaan operasional di setiap puskesmas. Yang lebih menggembirakan lagi Puskesmas Kwandang saat ini telah menjadi “Medical Centre” maupun Puskesmas rujukan yang didukung oleh tenaga dokter dan perawat yang memadai. Melalui program kesehatan ini Bupati Rusli mengharapkan agar masyarakat tidak perlu khawatir berobat atau memeriksakan kesehatan di Puskesmas atau rumah sakit terdekat karena pemerintah telah memberikan layanan kesehatan Gratis untuk rakyatnya. (AM)

Insentif Aparat Desa Tertinggi di Gorontalo



Berkarya Nyata dan bukan Berkarya Kata” yang menjadi moto Pemerintahan Rusli Habibie dan Indra Yasin nampaknya terus dimanifestasikan secara konkrit dalam membangun Kabupaten Gorontalo Utara.

Salah satu buktinya, terhitung mulai Januari 2010 Pemerintah Daerah kembali menaikkan tunjangan atau insentif bagi 1.700 aparat Desa se Kabupaten Gorontalo Utara dari 20 persen hingga 33 persen. Dengan kenaikan insentif tersebut, maka Kepala Desa di Kabupaten Gorut menerima tunjangan Rp. 1 juta perbulan.

Tidak hanya itu saja, jika selama ini insentif para aparat desa diterimakan 3 bulan sekali, maka mulai April 2010 dan seterusnya akan diserahkan setiap tanggal 1 bulan berjalan.

Tingkat kesejahteraan aparatur desa selama ini terus menjadi pusat perhatian Pemerintah Daerah untuk mendorong kinerja aparat desa guna memberikan layanan yang maksimal kepada masyarakat.

Tidak berhenti sampai disitu saja, untuk mendorong kinerja Kepala Desa , Pemerintahan Rusli Habibie juga telah merealisasikan bantuan kenderaan roda dua kepada seluruh Kepala Desa yang ada di daerah ini, mengikutsertakan Kepala Desa untuk kegiatan studi banding dan pelatihan Manajemen Pemerintahan Desa dan program lainnya yang bersentuhan dengan pemberdayaan masyarakat desa. (AM)

Daerah Sadar HAM



Sebuah kebanggaan, dari 500-an kabupaten dan Kota di Indonesia, Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut) ditetapkan sebagai daerah sadar HAM oleh Kementrian Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (Depkum dan HAM) RI.

Ditetapkannya Gorontalo Utara sebagai daerah sadar HAM tak terlepas dari program pemerintah daerah dibawah kendali Bupati Rusli Habibie dan Wabub Indra Yasin, yang telah mengakomodir hak-hak asasi masyarakat yang dikemas dalam Program Gerakan Pembangunan Ekonomi Masyarakat (Gerbang Emas) yang telah berhasil mewujudkan suatu tatanan pemerintahan yang baik dan mampu memenuhi perlindungan dan pemenuhan hak-hak warga sesuai amanah Undang-undang Dasar 1945, sedikitnya ada 10 indikator pemenuhan terhadap HAM yang berhasil diwujudkan pemerintahan Rusli Habibie yakni perencanaan pembangunan telah mampu mewujudkan peningkatan taraf hidup masyarakat, khususnya masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan, pembangunan Rumah layak huni (Mahyani) bagi warga miskin, Program KTP dan Kartu Keluarga Gratis, Program Jamkesda dan pengobatan gratis disetiap desa hingga ke pelosok yang menyentuh lapisan masyarakat miskin, program pembukaan akses jalan yang memberi peluang bagi rakyat untuk berusaha, memberikan beasiswa bagi guru dan siswa-calon mahasiswa dengan menggunakan dana APBD hingga menjadi sarjana. Tahun 2010 ini saja misalnya Pemerintah merogoh kocek APBD senilai Rp. 1,4 milyar lebih untuk beasiswa yang diberikan kepada generasi muda Gorut mengikuti pendidikan di berbagai perguruan Tinggi di Gorontalo termasuk di Fakultas Kedokteran UNG yang tahun ini mulai menerima mahasiswa baru. Keseluruhan Program-program yang bersumber dari nilai-nilai Gerbang Emas inilah yang menghantarkan Kabupaten Gorontalo Utara mendapat penghargaan dari Kementrian Depkum dan HAM RI sebagai daerah sadar hukum.

PROGRAM BEDAH KAMPUNG



Satu lagi program kerakyatan berhasil diperoleh Pemerintah Daerah Kabupaten Gorut dari Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) RI, Suharso Monoarfa. Yaitu Program Bedah kampung, yang akan direalisasikan pada 2010 ini. Program Bedah kampung ini dianggarkan melalui APBN Kementrian Perumahan Rakyat sebesar Rp 2,850 Miliar, dengan tujuan utnuk menciptakan kawasan pemukiman yang baik serta fasilitas yang lengkap. Dari total anggaran Rp 2,850 Miliar tersebut akan diperuntukkan pada beberapa bagian pembangunan dalam program bedah kampung tersebut. Diantaranya, pembangunan sarana umum dan perbaikan rumah warga sebanyak 200 unit dengan anggaran Rp 1,6 Miliar, peningkatan kualitas 100 rumah dianggarkan Rp 500 juta, pembangunan rumah baru 50 buah Rp 500 Juta, rumah nelayan 25 unit Rp 250 juta.

Program Bedah Kampung ini dimaksudkan untuk membangun sebuah kawasan desa yang dulunya dalam kondisi kurang layak, menjadi kawasan pemukiman yang bagus serta dilengkapi dengan fasilitas infrastruktur kebutuhan masyarakat. Program bedah kampung ini akan diarahkan di dua desa di Gorontalo Utara. Yakni, Desa Windu Kecamatan Biau dan Desa Dumolodo Kecamatan Gentuma Raya. Pasalnya, Pemerintah daerah menilai kedua desa ini masih sangat terbelakang, kondisi cukup memprihatinkan serta fasilitas penunjang aktivitas masyarakat juga sangat minim.
Dalam program ini, selain akan dibangun sejumlah rumah berikut perbaikan rumah warga juga membangun sanitasi, WC umum serta fasilitas lainnya, sehingga benar-benar desa ini akan menjadi kawasan yang indah, sehat dan berwarna. Bantuan dari kementrian Perumahan Rakyat ini berhasil dilobi dari Menpera RI tak terlepas dari kerjasama antar semua pihak serta terjalinnya koordinasi aktif dengan semua instansi di daerah. Utamanya, Bupati Rusli Habibie yang tak pernah merasa lelah untuk melobi anggaran di pusat, semata demi kebutuhan dan kepentingan masyarakat Gorontalo Utara.

Pertumbuhan Ekonomi Meningkat, Kemiskinan dan Pengangguran Berkurang


Upaya pemerintahan Rusli Habibie dan Indra Yasin hanya dalam rentang 15 bulan memimpin daerah ini, hasilnya sudah dapat dilihat dan dirasakan dampaknya bagi masyarakat. Indikatornya adalah pertumbuhan ekonomi dari tahun 2007 yang hanya 7,21 persen, tahun 2008 meningkat menjadi 7,21 persen dan tahun 2009 menjadi 7,52 persen.

Angka Kemiskinan tahun 2007 mencapai 49, 21 dari total jumlah penduduk yang mencapai 100, 904 jiwa berkurang menjadi 33, 19 persen dan tahun 2009 angka kemiskinan menurun menjadi 27,19 persen.

Jumlah Rumah Tangga (RT) miskin menurut Pendataan Sosial Ekonomi (PSE) yang pada tahun 2008 mencapai 11.778 RT, tahun 2009 menurun menjadi 7.644 RT. Demikian juga dengan angka pengangguran yang terus menurun. Tahun 2008 saja jumlah angkatan kerja di daerah ini mencapai 44.777 yang masih menganggur hanya kisaran jumlah 3.002 orang. (***)